Saga menarik selimut sampai kebahu
Daniah, memberi kecupan lembut di kening istrinya yang sudah dalam terlelap.
Dia mengusap kepalanya lembut. “Tidurlah dengan nyenyak, kamu sudah banyak sekali
menderita di rumah ini. Sekarang giliranku untuk membalas mereka.” Satu kecupan
lagi di pipi, gadis itu mengeliat pelan, namun tidak terbangun, satu kecupan lagi sebelum dia beranjak dari tempat tidur.
“ Tuan muda.” Han sudah berdiri di
luar pintu, dia menyodorkan gelas berisi
air dingin. Saga membawa gelasnya, meminumnya setelah duduk di ruang keluarga.
Sisa pesta semalam sudah selesai dibereskan. Selain para pelayan rumah ini,
pelayan yang dibawa pak Mun juga ikut membantu, sehingga semua bisa kembali
normal, seperti rumah ini tidak baru menyelengarakan pesta. Sekarang sudah jam
tiga. Bukan tengah malam, tapi masih terlalu pagi juga untuk terjaga.
“ Panggil mereka!”
“ Baik tuan muda.”
Baiklah, kita mulai dari mana balas
dendam ini. Memikirkan Daniah yang semalam memakai celemek saja sudah membuatku
kesal. Apalagi kalau menoleh cerita masa lalunya. Bisa-bisa aku menghancurkan
seisi rumah ini karena kesal.
Ayo kita balas semua perlakuan yang
pernah kamu dapatkan dirumah ini. Saga menghabiskan air dingin yang ada di
gelasnya. Tidak lama Han sudah muncul
lagi, diikuti seluruh anggota keluarga minus Daniah pastinya. Gadis itu pasti sedang
terlelap setelah kelelahan meladeni Saga.
Bocah itu, siapa namanya ya?
Baiklah, kau bisa selamat malam ini karena menyayangi Daniah. Karena hubunganmu
dengan kakakmu sejauh ini baik. Tapi....
Mereka semua sudah duduk di sofa
panjang, rapi berjajar. Risya menarik baju ibunya, wajahnya sudah sangat terlihat
takut. Selain ibu, dialah yang masuk daftar hitam sering berprilaku semaunya
pada Daniah. Kejahatannya kalau dibukukan mungkin setebal laporan keuangan
perusahaan. Gunawan dan Raksa yang tampak binggung. Raksa sebenarnya mengantuk,
sepanjang menuruni tangga saja dia menguap. Mungkin dia sendiri yang tidak
ketakutan di sini.
“ Kenapa kalian takut begitu, aku
hanya igin mengobrol bersama keluarga istriku. Dengan orangtua istriku dan
adik-adiknya.” Suara Saga terdengar sangat riang, seperti tidak punya maksud
apa-apa.
Mengobrol, dengan posisi seperti
ini. Inimah sudah di sebut sebagai hari eksekusi. Dijam segini juga. Han
bergumam dalam hati, masih berdiri di samping kursi Saga, tidak bergeming. Dia
hanya akan menjadi saksi.
“ Apa yang ingin anda bicarakan
tuan Saga.” Ibu tiri Daniah memberanikan diri bicara. Tapi tertahan ketika
tangan suaminya menyentuh tangannya. Menahannya untuk jangan mengatakan apapun
lagi. Aturan utama ketika berurusan dengan tuan Saga adalah, dengarkan dia
bicara, diam, dan tundukan kepala. Bahkan ini berlaku untuk para petinggi
perusahaan. Ayah Daniah menyadari posisinya sebagai mertua Saga tidak mempuyai
nilai apa-apa. Dia yang sudah menjual anak gadisnya untuk menyelamatkan
perusahaan, memang tidak pantas untuk mendapatkan penghormatan apapun dari
menantunya.
“ Aku hanya ingin mengobrol, jadi
jawab saja pertanyaanku seperti kita sedang mengobrol santai. Jangan tegang
begitu ibu mertua, memang apa yang ingin aku lakukan pada keluarga yang di
sayangi istriku.” Aura ketegangan sedikit mencair. “ Tapi jangan menjawab
berbelit-belit.” Seketika semua kembali tangan mereka. Bahkan Raksapun
mulai merasa bahwa obrolan pagi buta ini tidak baik-baik saja.
“ Berikan hpmu!” Saga menunjuk
Raksa, walaupun binggung kenapa dia harus menyerahkan hp, tapi dia menunjuk
kamarnya. Mengatakan Kalau hpnya ada di kamar.
“ Cepat ambil sana!” Saga mengerakan kepalanya menunjuk kamar. “ Cepat!” Raksa
bergegas menuju kamarnya.
Kalau kau punya bintal kecil di
hpmu, habis kamu, aku tidak akan semudah itu melepaskanmu. Walaupun kau baik
pada Daniah. Dan daniah menyanyagimu.
Raksa muncul setengah berlari
menuruni tangga.
“ Kenapa langkahmu berisik sekali,
bagaimana kalau kau menggangu Daniah tidur.” Mulai kesalkan dia, padahal belum
melihat hp Raksa.
“ Maaf tuan.” Raksa memperlambat
langkah, dia menyodorkan hp yang dia pegang.
Ahh, jadi bintang pasangan itu
hanya diberikan Daniah untukku kan. Wajah Saga langsung merona senang.
Dilemparkannya hp Raksa ke pangkuannya, gelagapan Raksa menangkap.
“ Pergi tidur sana! kau belum cukup
umurkan?. Aku tidak mau menggangu anak di bawah umur”
“ Ia.” Binggung lagikan, bukan
hanya Raksa semua orang binggung. Raksa meminta jawaban ayahnya, ada apa
sebenarnya ini. Sementara Gunawan sama tidak mengertinya.
Tuan, kumohon bersikaplah dewasa
sedikit. Mereka sedang ketakutan sekarang, kenapa anda malah ngelawak begini.
Han mengambil tindakan.
“ Saya akan mengantar tuan Raksa ke
kamar. Silahkan ikuti saya.”
“ Apa? Kenapa?” Raksa seperti berat
untuk meninggalkan orangtuanya dan Risya. Karena sepertinya mereka tidak akan
semudah itu selamat.
“ Pergilah tidur, hp anda sudah
menyelamatkan anda.”
Raksa melihat Saga binggung,
Apalagi dengan perkataan Han barusan. lalu bergantian melihat orang tuanya.
Sebenarnya dia ingin tetap tinggal, tapi tangan Han sudah menariknya untuk naik
ketangga dan sekertaris tuan Saga ini mengikutinya sampai ke depan pintu kamar.
Bahkan membukakan pintu untuknya.
“ Maaf, tapi bagaimana dengan
orangtuaku dan Kak Risya.” Raksa menyentuh lengan sekertaris Han, saat
sekertaris itu memberi sorot tidak suka saat di sentuh Raksa segera menarik
tangannya.
“ Masuklah, kalau saya boleh
memberi saran, sebaiknya anda tidur dengan tenang dan tidak perlu keluar kamar
lagi. Selamat malam.” Han sudah membungkukan kepalanya, dan mau beranjak. Dia
sudah membalikan badan sekarang.
“ Tunggu! Mereka tidak akan
kenapa-napakan. Orangtuaku.” Raksa memohon jawaban.
“ Memang apa yang akan terjadi pada
mereka, anda tadi mendengarkan, kalau tuan muda hanya ingin mengobrol.”
Raksa sudah memegang gagang pintu
ketika melihat senyum sekertaris Han. Senyumnya menakutkan sekali pikirnya. “
Baiklah, selamat malam.” Bergegas menutup pintu, tanpa ingin mendengar pria di
depan pintu menjawab salam selamat malamnya.
Han sudah berdiri di samping kursi
tuannya lagi, dia melihat ketiga orang yang duduk di sofa panjang, mereka terlihat sangat
pias. Apalagi kedua wanita itu. Mereka saling berpegangan. Mengantungkan diri
atau saling memberi kekuatan.
Saga sudah bicara terlalu banyak untuk ukurannya, di selingi desahan. Mereka bertiga walaupun sedikit terbata tetap menjawab.
Kalau saja kalian baik sedikit saja
pada nona Daniah, urusannya tidak akan sepanjang ini.
“ maafkan saya tuan Saga, saya sebagai
ayah yang tidak bisa bersikap adil pada anak-anak saya.” Ayah Daniah
mengangukan kepala dalam. Dia tidak tahu kata apa yang harus dipilihnya untuk
membuat laki-laki dihadapannya ini puas. Yang pasti dia harus mengakui
kesalahannya. Selama ini dia sudah memandang Daniah sebelah mata. Dia
bersikeras mempertahankan anak wanita yang dulu di cintainya. Tapi tidak bisa
benar-benar memberikan kasih sayang layaknya ayah yang benar padanya.
“ Baguslah, ayah mertua tahu
kesalahan apa yang sudah dilakukan. Aku jadi tidak perlu repot memberitahu
kesalahanmukan.” Saga menjawab sinis.
Aku benar-benar ingin menghukum
mereka.
Saga mengepalkan tangannya geram.
“ Ibu tidak pernah memaksa Daniah
tuan, dia sendiri yang memang mau membantu pelayan mengerjakan pekerjaan rumah.
Ibu.” Kalimat Risya berhenti ketika sorot mata tajam Saga tertuju padanya.
“ Tutup mulutmu!” Gadis itu
gemetar. “ Berapa usiamu, apa Daniah itu adikmu? Sebaiknya bersikap sopanlah
mulai sekarang dengan kakakmu.” Risya bahkan menitikan airmata karena takut.
Ibunya tangannya. “ Kau mau aku batalkan semua kontrak drama dan
iklanmu?” kedua wanita itu semakin ketakutan. “ Huh! Apa kau pikir kau bisa
masuk ke dunia entertainer karena kemampuanmu?”
“ Maafkan saya tuan Saga. Maafkan
saya.” Ibu mengantikan anaknya meminta maaf. Risya sudah tidak bisa
mengeluarkan sepatah katapun karena ketakutan.
“ Ahh, menyebalkan sekali.” Udara
sudah terasa sesak untuk dipakai bernafas.
“ Maafkan kami tuan Saga.” Mereka
minta maaf berulang bersamaan. Ibu dan ayah mertua.
“ Kenapa kalian minta maaf padaku,
memang salah kalian padaku.”
Mereka bertiga terdiam. Benar,
kesalahan mereka adalah pada Daniah. Kesalahan terbesar mereka adalah mereka
tidak tahu, kalau pada akhirnya nanti Daniah bisa mendapatkan dukungan dari
orang berkuasa ini. Semua sesal menghujani diri mereka kenapa mereka bisa
memperlakukan Daniah dengan buruk. Tapi kesadaran mereka bukan murni mereka
merasa bersalah, tapi karena takut pada Saga.
Saga bangun dari duduknya. Menoleh
pada Han.
“ Han, pastikan mereka minta maaf
dengan benar pada Daniah. Aku mau tidur sekarang.”
“ Baik tuan muda. Selamat malam, selamat istirahat.”
Han menundukan kepala sampai Saga menghilang.
Merepotkan sekali, sekarang aku
harus mulai dari mana ini.
Han duduk dikursi yang tadi di
dududki Saga. “ Mohon maaf karena sudah membuat kalian bangun sepagi ini.” Tidak ada
yang berani menjawab, semuanya terdiam. “ Besok pagi mulailah bersikap baik
pada nona Daniah.” Semua masih terdiam menunggu kelanjutan. “ Itu saja,
bersikap baiklah selayaknya sebuah keluarga.” Mereka berfikir kalimat Han sudah
selesai. Tapi senyum tipis tiba-tiba muncul. Dan kalimat selanjutnya membuat
mereka tergugu, kelu mengigit bibir.
“ Sebenarnya tuan muda ingin
melihat kalian memohon maaf dan pengampuan dengan berlutut di depan nona
Daniah. Tapi saya rasa itu pasti sangat memalukan. Apalagi untuk nyonyakan?
Nona Daniah juga pasti akan merasa tidak nyaman. Apalagi anda Tuan, andakan ayahnya.
Kalau untuk anda nona Risya sepertinya tidak terlalu masalah karena usia anda
yang memang lebih muda dari nona Daniah. Tapi tetap saja pasti itu tidak
nyamankan. Saya juga tidak bisa memaksa kalian. Tapi sepertinya yang kalian lihat, tuan muda menyanyangi nona Daniah, jadi.......” Kalimat Han menggantung. dia sengaja, lihat senyumnya itu. Han bangun dari duduk. “ Sepertinya masih terlalu pagi, sebaiknya kita kembali
ke kamar untuk tidurkan. Selamat malam tuan dan nyonya. Selamat malam juga nona
Risya. Semoga kalian mimpi indah." Berjalan dengan ringan menuju kamar tamu yang
disiapkan untuknya. Seperti tidak habis menjatuhkan kata-kata mematikan.
Dia serius, dia serius menyuruh
kami berlutut dan memohon pengampunan pada Daniah. Ketiga orang itu
jemari, memikirkan hal yang sama.
BERSAMBUNG